Beberapa bulan lalu gue ngobrol sama tetangga yang anaknya baru masuk SD. Dia cerita kalau tiap malam dia habiskan hampir dua jam nemenin anaknya belajar. Eh, hasilnya? Anaknya nangis, dia ikut emosi, dan besoknya si anak lupa lagi apa yang baru dihafal. Gue yang belum punya anak besar-besar amat sih cuma bisa manggut-manggut, tapi obrolan itu nempel di kepala gue sampai sekarang.
Karena jujur aja, gue dan istri sekarang lagi di fase "baru punya anak". Anak gue masih balita. Tapi anehnya, obrolan soal cara belajar yang efektif udah mulai muncul di meja makan. Mulai dari mau masukin ke playgroup mana, sampai pertanyaan klasik: nanti kalau dia malas belajar gimana?
Dan dari situlah gue mulai baca-baca, ngobrol sama guru, dan ngamatin anak-anak di sekitar. Ternyata banyak banget anggapan soal belajar yang menurut gue salah kaprah — dan itu justru sering diturunkan dari orang tuanya sendiri, termasuk gue kalau nggak hati-hati.
Baca juga: Sebulan Belajar Sambil Jalan: Cara Belajar Efektif buat yang Sering Traveling
Belajar itu bukan soal berapa lama, tapi seberapa sering
Ini yang paling nge-hit gue. Selama ini otak kita (gue juga dulu) mikirnya: belajar ya harus duduk manis satu jam, dua jam, baru dianggap serius. Padahal riset soal memori udah lama bilang sebaliknya. Otak lebih gampang nyimpen sesuatu kalau diulang dalam waktu singkat tapi sering, bukan sekali panjang.
Bayangin gini. Kamu mau hafal nama-nama bunga. Kalau kamu baca daftarnya selama dua jam nonstop malam ini, terus besoknya nggak dibuka lagi, minggu depan kemungkinan besar udah lupa. Tapi kalau kamu baca 10 menit tiap hari selama seminggu, hasilnya beda banget. Namanya spaced repetition, dan itu bukan teori keren di buku psikologi doang — anak-anak kecil sebenarnya udah pakai cara ini waktu mereka belajar ngomong.
Jadi buat gue pribadi, ini ngubah cara pandang. Nanti kalau anak gue belajar, gue nggak mau maksa dia duduk sejam penuh. Lebih baik 15 menit tapi rutin tiap hari, sambil ngobrol, sambil main. Kelihatannya sepele, tapi efeknya jauh lebih nempel.
"Anak yang belajar 15 menit tiap hari bisa ngalahin anak yang belajar 3 jam sekali seminggu. Konsistensi ngalahin intensitas."
Rumah itu sekolah pertama, dan orang tua itu guru yang nggak sadar
Gue sempat kepikiran, apa iya anak balita udah perlu "belajar"? Ternyata iya, cuma bentuknya bukan les atau buku latihan. Anak belajar dari apa yang dia lihat dan dengar di rumah. Kalau di rumah nggak ada buku, nggak ada obrolan, dan yang ada cuma TV nyala terus, ya jangan heran kalau anaknya susah fokus nanti.
Istri gue ini lumayan rajin baca buku. Dan gue perhatiin, anak gue yang masih dua tahun itu suka banget ngambil buku, buka-buka, nunjuk gambar, walaupun belum bisa baca. Dia niru. Simpel banget sebenarnya: anak itu peniru ulung. Jadi kalau kita pengen anak suka belajar, ya kita juga harus kelihatan belajar sesuatu di depan mereka.
Gue nggak bilang harus jadi orang tua sempurna. Nggak mungkin. Kadang gue juga capek pulang kerja, pengennya rebahan sambil scroll HP. Tapi setidaknya gue sadar, ada mata kecil yang lagi ngamatin. Dan itu cukup buat bikin gue mikir dua kali sebelum ngambil HP di depan dia.
Beberapa hal kecil yang bisa mulai dibiasakan dari sekarang
- Bacain buku 10 menit sebelum tidur. Nggak harus buku edukasi, buku cerita bergambar juga cukup. Yang penting rutin dan ada interaksinya — tanya "ini gambar apa?"
- Bikin pertanyaan jadi kebiasaan. Daripada langsung kasih jawaban, coba balik nanya "menurut kamu kenapa?" Anak jadi terbiasa mikir, bukan cuma nunggu disuapin.
- Kurangi layar, tambah obrolan. Nggak usah ekstrem, tapi coba ganti 20 menit nonton video dengan ngobrol atau main peran. Efeknya ke kemampuan bahasa anak lumayan kelihatan.
- Beri ruang buat salah. Ini berat buat gue pribadi, karena gue tipe yang pengen semuanya rapi. Tapi anak belajar paling banyak justru waktu dia salah dan dibantu nemuin jalan keluarnya, bukan waktu kita langsung benerin.
Jangan samain cara belajar anak dengan cara belajar kita dulu
Ini poin yang sering luput. Banyak orang tua (termasuk gue kalau nggak sadar) ngukur anak pakai standar zaman dulu. "Dulu gue belajar sambil hafalan, kok bisa." Padahal zaman udah beda. Informasi sekarang gampang banget diakses, jadi yang lebih penting bukan hafal, tapi bisa nyaring informasi dan mikir kritis.
Gue pernah baca satu pendapat yang nempel: anak zaman sekarang nggak butuh dijejali fakta, mereka butuh diajarin cara nyari fakta yang bener. Karena begitu mereka pegang HP, informasi datang dari mana-mana, termasuk yang hoaks. Kalau dari kecil nggak dilatih mikir, ya gampang ketipu.
Makanya gue pengen nanti pas anak gue mulai bisa ngobrol, gue biasain nanya hal-hal kayak "kamu percaya nggak? kenapa?" Walaupun jawabannya masih ngawur karena masih kecil, kebiasaan mikirnya yang gue kejar. Bukan jawaban benernya.
Yang paling penting: jangan sampai belajar jadi hukuman
Ini nih yang gue takutin banget. Banyak anak jadi benci belajar karena belajar selalu diasosiasikan sama omelan, paksaan, atau hukuman. "Ayo belajar, kalau nggak nanti nggak naik kelas." Kalimat kayak gitu mungkin niatnya baik, tapi efeknya bikin anak nganggep belajar sebagai beban, bukan hal yang menyenangkan.
Padahal anak kecil itu dasarnya penasaran banget. Coba aja lihat balita yang nanya "itu apa?" seratus kali sehari. Rasa penasaran itu harus dijaga, bukan dipadamkan. Kalau kita bisa bikin belajar terasa kayak main — atau setidaknya nggak menakutkan — anak bakal jalan sendiri.
Gue belum tahu nanti anak gue bakal jadi anak yang gimana. Bisa jadi dia nggak suka matematika, bisa jadi dia lebih suka seni. Dan menurut gue itu nggak masalah. Yang penting dia nggak takut buat belajar hal baru, apapun itu. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal nilai di rapor, tapi soal gimana dia bisa terus tumbuh jadi orang yang mau belajar seumur hidup.
Buat kamu yang juga baru jadi orang tua, kayak gue: nggak usah panik kalau belum punya "sistem belajar" yang rapi. Mulai dari hal kecil aja. Baca buku bareng, ngobrol, tanya-tanya. Nanti juga ketemu ritmenya sendiri. Yang penting kita nggak berhenti belajar jadi orang tua juga, ya kan?